BOJONEGORO - Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Kelompok 44 melalui program Kenep Biofeed menggelar penyuluhan dan praktik budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) bagi penerima Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) di Balai Desa Kenep, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Minggu, 19 Juli 2026. Kegiatan yang diprakarsai Hammam Muafa ini dilakukan untuk merespons tingginya biaya pakan ayam dan belum optimalnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga melalui edukasi, praktik demplot, serta monitoring budidaya.

Peternak GAYATRI masih banyak bergantung pada pakan pabrikan. Saat harga meningkat, penggunaan campuran bahan lain memang dapat menekan pengeluaran, tetapi komposisi yang tidak tepat berisiko menurunkan mutu pakan. Karena itu, Kenep Biofeed mengenalkan maggot BSF sebagai pakan tambahan, bukan pengganti penuh ransum, dengan penggunaan secara bertahap, terukur, dan tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi serta kondisi ayam.

Materi mencakup siklus hidup BSF, pemilahan limbah, penyiapan media, penetasan telur, pemeliharaan larva, pengaturan kelembapan, pengendalian bau dan hama, pemanenan, hingga penanganan sebelum diberikan kepada ayam. Bahan seperti sisa sayuran, kulit buah, nasi, ampas tahu, ampas kelapa, dan sisa pangan lunak dapat dimanfaatkan setelah dipilah. Sebaliknya, plastik, kaca, logam, benda tajam, bahan terpapar zat kimia, serta limbah terlalu asin atau berminyak tidak digunakan. Peserta kemudian mempraktikkan tahapan dasar budidaya melalui demplot agar proses lebih mudah dipahami dan dapat dicoba di rumah.

Salah satu peserta Program GAYATRI, Bu Muzayyanah, mengaku baru mengetahui bahwa limbah dapur dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot. “Saya senang mendapat ilmu baru. Setelah dijelaskan dan ditunjukkan melalui demplot, caranya ternyata cukup sederhana dan bisa dicoba di rumah,” ujarnya. Menurutnya, praktik langsung menjadi bagian yang paling membantu karena memberi gambaran nyata mengenai proses budidaya.

Pemerintah Desa Kenep menilai Kenep Biofeed membantu program prioritas desa dan sesuai dengan kebutuhan penerima program peternakan ayam. Dukungan diberikan melalui fasilitasi administrasi, peminjaman tempat, dan sarana penyuluhan. Program juga dinilai berpotensi dikembangkan lebih luas apabila pengelolaan dan pendampingan dapat diteruskan.

Setelah penyuluhan, kegiatan dilanjutkan dengan monitoring demplot yang mencakup perkembangan larva, kondisi media, kelembapan, bau, hama, kebersihan, penggunaan limbah, serta tindakan perbaikan jika muncul kendala. Hasil budidaya akan diamati sebelum maggot digunakan sebagai pakan tambahan dalam skala terbatas. Hammam menegaskan, tujuan program tidak hanya menghasilkan maggot, tetapi juga membangun pengetahuan, keterampilan, kebiasaan mencatat, dan kesiapan masyarakat merawat demplot secara konsisten.

“Kenep Biofeed kami rancang sebagai langkah awal untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus, yaitu pengelolaan limbah organik dan kebutuhan pakan tambahan ayam. Penggunaan maggot tetap harus dilakukan secara bertahap, terukur, dan tidak menggantikan seluruh pakan utama,” jelas Hammam.

Kenep Biofeed turut mendukung SDG 2 Tanpa Kelaparan melalui penguatan praktik peternakan yang lebih berkelanjutan serta SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui pemanfaatan limbah organik. Kegiatan ini merupakan bagian dari MMD Universitas Brawijaya 2026, berkolaborasi dengan program Hibah Strategis DRPM Universitas Brawijaya Tahun 2026, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Onni Meirezaldi, S.Sos., M.M. Keberlanjutan program selanjutnya bergantung pada keterlibatan penerima manfaat, pengelola demplot, dan dukungan Pemerintah Desa Kenep


By Admin
Dibuat tanggal 11-08-2026
0 Dilihat